Tuesday, November 25, 2014

PRING-PRINGAN (POGONATHERUM CRINITUM), RUMPUT HIASAN TERAS RUMAH

Rumput Pring-pringan (Pogonatherum crinitum (Thunb.) Kunth)
Nama umum Indonesia : Rumput bambu
Nama lokal                    : Pring-pringan, Merangan, Jukut Mayang

Klasifikasi 
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
                     Sub Kelas: Commelinidae
                         Ordo: Poales
                             Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
                                 Genus: Pogonatherum
                                     Spesies: Pogonatherum crinitum (Thunb.) Kunth
        Spesies sama: Pogonatherum paniceum (Lamk) Hack.

Pring-pringan (Foto : plantinfo.co.za/flickr.com/rareflora.com/wikipidia.org)
Pring-pringan tumbuh merumpun. Tiap-tiap rumpun berbuluh. Tinggi masing-masing buluh sampai 60 cm.Tumbuh tegak berumbai, habitus (perawaka) ramping dan bercabang pada bagian pangkal dan tengahnya. Pada buluh-buluh yang sudah tua sebagian daunnya yang terdapat di bawah biasanya berguguran. Pangkal pelepahnya berbulu putih dan pendek sedangkan bulu-bulu yang berada di sepanjang tepinya lebih panjang.

Perbungaannya ramping, keluar di ujung cabang. Bulir-bulirnya berbuku-buku dan berbulu panjang, yang warnanya kuning emas. Bulirannya berpasangan dan letaknya berselang-seling. Satu bulir bertangkai dan satu bulir tak bertangkai pada tiap pasangan. Buliran yang sudah tua kering dan mudah patah. Buliran-bulirannya yang jatuh dan terbawa air dapat tumbuh di tempat lain sebagai tumbuhan baru. Selain melalui buliran rumput ini dapatmemperbanyak diri dengan anakannya. Akarnya serabut berwarna putih kekuningan.

Pring-pringan tumbuh dalam kelompok-kelompok yang ukurannya sedang. Umumnya banyak dijumpai pada tempat-tempat yang berbatu-batu dan tanahnya agak basah. Tembok-tembok yang sudah tua atau sepanjang tepi saluran air adalah tempat yang disukainya. Rumput ini tidak hanya tumbuh baik pada tempat-tempat terbuka akan tetapi ditempat-tempat yang ternaungi pun dapat tumbuh baik. Rumput ini sudah dimanfaatkan sebagai tanaman hias, terutama ditanam pada pinggir kolam ikan dan di dalam pot di teras rumah. Perawatan rumput ini sebagai tanaman hias cukup mudah dan tidak perlu perlakuan khusus, karena tanaman ini mudah sekali tumbuh bahkan pada tanah marjinal sekalipun.

Menurut Peneliti Unej, rumput pring-pringan ini berkhasiat sebagai pelancar air seni, penurun panas dan sebagai antibakteri. Penelitian mengenai rumput ini memang mulai dikembangkan di Lembaga-lembaga Penelitian Kampus. Dilaporkan bahwa seluruh bagian tanaman rumput bambu mengandung saponin, kardenoiin dan polifenol. [Sekian]

Friday, November 21, 2014

PALUNGPUNG (PHRAGMITES KARKA (Retz.) Trin. ex Steud.), RUMPUT HIAS ASAL PAPUA

Berikut ini klasifikasi Palungpung (Sumber : plantamor.com)
 Nama umum


Indonesia:Bayongbong, glagah asu, gumulong, kasongket, palungpung, parongpong, perumpung, prumpung, tatepal, tatupele
Inggris:Tall reed


Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
                     Sub Kelas: Commelinidae
                         Ordo: Poales
                             Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
                                 Genus: Phragmites
                                     Spesies: Phragmites karka (Retz.) Trin. ex Steud.
Palungpung (Foto : kasugak.sakura.ne.jp, fobi.net.id)

Palungpung termasuk golongan rerumputan yang mulai dikembangkan sebagai tanaman hias. Keindahannya terletak pada rumpunnya yang tumbuh tegak dan anakannya yang banyak. Buluh-buluhnya kuat akan tetapi dalamnya berongga. Panjang tiap buluhnya sampai empat meter. Pelepahnya  halus dan licin, serta bagian ujungnya berbulu halus. Helaian daunnya berbentuk seperti lidah; ujungnya lancip sekali. Permukaan daunnya halus dan bagian tepinya agak kasar. Kadang-kadang bagian tengah daun hijau dengan kedua tepinya berwarnaputih atau putih kekuningan.

Pembungaannya berupa malai yang kasar. Panjang perbungaannya sampai 75 cm. Malai  terdiri atas banyak bunga bagian yang berupa tandan. Buliran yang sudah mekar, bagian pangkalnya berbulu halus dan panjang. Warna bulunya kuning muda keemasan, menjadikan bunga ini sangat menarik sekali. Tak pelak menjadi primadona tanaman hias. Musim berbunganya sepanjang tahun. Buliran yang sudah tua mudah lepas dan dengan bulunya yang halus mudah sekali diterbangkan angin kemana-mana. Perbanyakannya melalui rimpang, potongan-potongan buluhnya ataupun melalui bulirannya.

Palungpung umumnya tumbuh di sekitar pantai sampai pada ketinggian 1.700 meter. Menyukai tempat-tempat yang agak basah, pada tempat-tempat yang lembab seperti di tepi sungai atau di padang rumput yang basah. Rumput ini banyak ditemukan tumbuh dalam areal yang sangat luas seperti di Papua. Orang-orang suku Papua memanfaatkan buluhnya untuk dibuat tangkai panah dan atap. Daun palungpung yang masih muda dapat dipergunakan sebagai makanan ternak.

Tuesday, November 18, 2014

RUMPUT MERAK (THEMEDA ARGUENS)

Themeda arguens (L.) Hack. (Foto : phytoimages.siu.edu)

Namanya memang diambil dari nama burung paling fenomenal asli Indonesia, Burung Merak. Penamaan itu karena saat rumput  ini mekar, bulirnya mekar seperti ekor Merak saat mengembang. Nama latin rumput merak ini adalah Themeda arguens (L.) Hack. Saya tulis spesies rumput ini karena punya suatu keunggulan di bandingkan rumput-rumput lain, meskipun rumput lain itu punya keistimewaan tersendiri. Salah satu keunggulannya adalah rumput ini mampu tumbuh subur di tempat-tempat kering dan daerah gersang sekalipun. Artinya bahwa rumput ini dapat dijadikan pakan utama ternak di kala musim kemarau panjang, meskipun kandungan gizinya rendah. Hal ini sesuai untuk daerah-daerah di Indonesia yang curah hujannya cukup rendah seperti Pulau Madura, Nusa Tenggara Timur dan Pulau Komodo, mengingat daerah bagian timur Indonesia itu terkenal dengan peternakan Sapi dan Kerbaunya. 

Di daerah pasundan (Jawa Barat), rumput ini oleh sebagian masyarakat digunakan untuk obat sakit pinggang dan encok, misalnya pada bagian akar yang telah dihaluskan untuk obat tapal pada pinggang yang sakit. Juga dilaporkan di negara tetangga kita, Malaysia, sudah dikembangkan untuk obat pembersih darah dan penyubur rambut. Sejauh ini masih diteliti kandungannya.Rumput yang masuk dalam ordo Poales ini disukai anak-anak desa untuk mainan. Biasanya mereka mengambil sekelompok bulirnya dan dimasukkan ke dalam lubang lengan atau leher baju dan rumput itu akan bergerak masuk ke badan.

Secara morfologi, rumpunnya tegak, pangkalnya tumbuh mendatar. Habitus (perawakan) bisa mencapai dua meter. Buluhnya ramping, padat. Warnanya ungu kemerahan atau kadang bahkan kekuningan. Panjang daunnya bisa mencapai 50 cm. Daunnya berwarna hijau kemerahan atau bisa ungu kebiruan. Tepiannya kasar, terdapat bulu halus dan panjang. Pembungaannya berupa tandan, panjangnya bisa sampai 1 meter. Bulirnya punya bulu yang halus dan panjang. Pembungaannya sepanjang tahun, perbanyakan dirinya dengan anakan dan bulirannya.

Sunday, November 16, 2014

Mencoba Domestikasi Rumput Tapak Liman (ELEPHANTOPUS SCABER)

Judul
AGROEKOLOGI TUMBUHAN OBAT TAPAK LIMAN (ELEPHANTOPUS SCABER) PADA BERBAGAI TIPE PENGGUNAAN LAHAN DI DATARAN RENDAH DAN USAHA DOMESTIKASI*
Oleh
Evi Setyawati
Pemb
PU : Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, PP : Dr. Ir. Pardono
Ket.
Makalah seminar hasil S-1, Fak. Pertanian, UNS Surakarta
Tapak Liman 

Tapak Liman termasuk tumbuhan rerumputan berkhasiat obat yang kurang dikenal sebagian masyarakat. Rumput ini dikembangkan sebagai objek penelitian temanku yang bernama Evi Setiawati. Tapak Liman ini menarik perhatian saya dikala penelitiannya sedang berlangsung yang terkena serangan kutu daun, dan waktu itu kita berjumpa di Klinik Tanaman UNS. Di lapang tumbuhan ini sangat bagus pertumbuhannya, tetapi waktu di lakukan domestikasi di screen house, hampir semuanya terserang kutu daun. Banyak faktor yang pasti mempengaruhi serangan hama tersebut, namun sebagai mahasiswa amatiran, itu adalah kasus yang sangat menarik.
Secara morfologi,  Tapak Liman punya 6 helaian daun dengan panjan 9 cm dan lebar 3 cm, berbentuk spatel (spathulate), warna hijau, ujung membulat (rounded), pangkal aternat, vena menyirip (pinnate), permukaan berbulu halus (vilosus) dan berakar tunggang. Habitatnya mudah dijumpai di dataran rendah meliputi sawah, pekarangan dan tegalan.

Berbagai kandungan dari rumput ini sedang diteliti dan dikembangkan dalam bidang kesehatan, terlebih mampu digunakan sebagai pengganti obat-obatan kimia. Di lapang rumput ini cenderung tersebar dan perlu dilakukan pembudidayaan secara efektif. Hal ini supaya ada ketersediaan bahan baku. Tumbuhan liar yang kemudian dibudidayakan dengan lingkungan yang sesuai disebut Domestikasi.

Domestikasi suatu tumbuhan mencakup agroekologi-nya, morfologi-nya, iklim-nya, analisis vegetasi-nya, pola pertumbuhan-nya, berat brangkasan-nya dan lain-lain. Yang paling pokok cakupan tentunya adalah analisis vegetasi Tapak Liman yaitu Indeks Nilai Penting (disingkat INP) pada setiap tipe penggunaan lahan dan pola sebarannya.

Dari hasil penelitian teman saya Evi, nilai INP Tapak Liman tertinggi pada tipe penggunaan lahan pekarangan. Pola sebaran adalah karakter penting dalam ekologi. Pola-nya yang telah diakui yaitu : acak (random), mengelompok (clumped), dan seragam (uniform). Misalkan untuk pola sebaran mengelompok (clumped) ditunjukkan dengan jumlah dan kerapatan. Semakin banyak dan rapat spesies maka pola sebarannya mengelompok.

Untuk mengetahui lebih detail mengenai domestikasi Tapak Liman, penelitian lanjutan sangat diperlukan. Morfologi batang dan biji-nya juga perlu dipelajari. Dalam hal informasi mengenai khasiat tanaman obat, maka perlu juga analisis metabolit sekundernya. [Sekian]

Thursday, November 13, 2014

Teman Seperjuangan (Perjalanan Masa Lalu Bag. V/Akhir)

Melewati Satu Pintu
Melintas rimbunnya kebun sawit
Bersama di Jalan Poros Kebun Sawit


12 September 2012, hari yang bersejarah bagi kami, anak rantau. Itu hari dimana matahari bersinar terang, bunga mulai bermekaran, angin semilir lembut, kupu-kupu terbang bebas, dan burung berkicau-kicau. Ya, hari itu saatnya kepulangan kami ke kampung halaman, Surakarta Hadiningrat di tanah Jawa  bagian tengah. 

Tidak sabar rasanya menunggu hari itu untuk sejenak. Sehari sebelumnya kami telah sepakat untuk berpamitan kepada “Guru Lapang” kami, yang telah memberi ilmunya separoh untuk kami bawa ke kampung halaman. Hal yang tak terduga adalah salah seorang wanita muda, asisten rumah tangga mess kami yang merasa kehilangan kami, karena akan pulang dan entah kapan akan bertemu kembali. Beliau sering memberi makan kami dikala catering terlambat tiba. Itu hal yang membuat kami berdecak kagum, ikhlasnya seseorang atas kebaikannya yang tidak kenal siapa, darimana asal, status dan agamanya, semua laksana tertutup oleh kebaikan hatinya. Perjumpaan selama tiga bulan itu membuat kami merasa menjadi manusia seutuhnya, layak akan penghormatan sesama. Indah sekali.

Akhirnya,  pulang ke kampung halaman. Kembali kami mengingat dimana waktu kita pertama kali di bumi Khatulistiwa ini, aroma pantainya, ombaknya, jalanannya yang berbatu, guyuran hujan, seakan masih tercium hangat, menemani perjalanan kami dari Waru menuju pelabuhan Penajam. Dari pelabuhan ini terpampang jelas “Selamat Datang di Kab. Penajam Paser Utara”, sebuah gapura pelabuhan yang ramai dan padat. Kami kembali menaiki speedboat menuju pelabuhan utama Semayang. Dari pelabuhan ini tujuan kami adalah hanya satu, Bandara Sepinggan, tempat pertama kali, tiga bulan lalu kami menginjakkan kaki di Kalimantan. Penerbangan waktu itu sekitar pukul enam sore waktu setempat, dengan tujuan Balikpapan-Jogjakarta. Pukul tujuh malam kami mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Adi Sucipto Jogjakarta. Udaranya sudah beda, aroma tanah Kalimantan mulai perlahan sirna, namun kenangannya terbawa hingga hari-hari berikutnya.

Sebuah kisah yang tak terlupakan, menggugah rasa, menajamkan angan-angan, memecah beriaknya air rawa, di keheningan siang, di pertengahan September 2012. Saat nya untuk kembali ke rutinitas semula, sebagai mahasiswa, bertemu teman seperjuangan di sana. Pelajaran berharga yang mungkin suatu saat menjadi terulang kembali, dalam kehidupan yang nyata, dengan status berbeda. (ini adalah paragraf paling melankolis)

Kala itu masih teringat jelas bahwa sebagai mahasiswa, info mengenai “KRS-an” sangat minim. Sarana komunikasi termutakhir kala itu adalah lewat Facebook (sinyal hp sangat minim di tengah perkebunan sawit). Info mengenai mata kuliah yang dapat diambil kami peroleh dari teman-teman seperjuangan di kampus, lewat sosial media tersebut melalui saluran wifi kantor besar. Mereka adalah informan paling jujur kala itu, atau sedang terpaksa juga bisa.

Ucapan terima kasih kepada teman seperjuangan, mereka adalah laksana buku. Teman duduk yang tidak akan memujiku secara berlebihan, sahabat yang tidak akan menipuku, dan teman yang tidak akan membuatku bosan. Mereka adalah sekelompok manusia yang sangat toleran, yang tidak memaksaku mengeluarkan apa yang aku miliki. Mereka tidak pernah memperlakukanku dengan tipu daya dan kebohongan. Eciee (pegang kepala, benturin ke bantal).

Terima kasih kepada yth :
  1. Dawaul Mupid asal Lamongan, orang yang tidak pernah marah sekalipun meskipun dia tahu bahwa pacarnya pergi nun-jauh di sana. 
  2. Dwi Hermawan asal Bayat, meski kadang aksimu mengarah ke pornografi, tiada bermaksud itu hanyalah wujud humormu saja, tidak lebih. Tapi ingat, perempuan tetaplah perempuan, dia ingin di tinggikan derajatnya di hadapan perempuan lainnya.
  3. Arnies Pradana asal Boyolali, penyamaranmu memang berhasil, dimanapun dan kapanpun, apapun.
  4. Budi Handayani asal Sragentina, Maskotnya jomblo anyaran.
  5. Habiburohman asal Sragentina, dia adalah pengingat waktu dan pemain musik pengantar tidur terbaik (pernyataan ini harus dicermati dengan seksama).
  6. Aditya Darma asal Ngawi, si raja bully. Dia adalah pengamat humaniora terbaik, yek.
  7. Barata Dwi asal Boyolali, dia yang gigih mempertahankan cinta pertamanya, namun pada akhirnya (titik-titik). Orang sebaik engkau akan mendapatkan penggantinya kelak, atau orang yang sama kelak, entah saya tidak tahu.
  8. Aprilia Ike asal Klaten, dia masih tidak pede dengan berat-badannya sampai tulisan ini dimuat.
  9. Dwi Sulanjari asal Mranggen city, tenanglah pasti dapat penggantinya, ingat jodoh itu ada ditempat dimana engkau bekerja. Jadi silahkan serius bekerja bekerja bekerja.
  10. Dinda Pangestika asal Pemalang, ide-ide gilanya bisa membuat para manusia di sekitarnya tidak bisa tidur, karena serius memikirkannya.
  11. Annisa Aulia asal Karanganyar, penuh kejutan.
  12. Antony Derry asal Karanganyar, partner dalam perbuatan ‘kriminil’ (makna hiperbola)
  13. Hadyan Kharisma asal Magetan, selamat semoga langgeng dengan gebetannya yang kata orang-orang sangat setia itu, katanyaa.
  14. Dhoni Prasetyo asal Wonogiri, semoga cepat sembuh dari ketergantungannya terhadap ‘game online’.
  15. Novi Puji asal Ngawi, pasti cintamu kan terbalaskan, dan predikat jomblo akut segera berakhir, percayalah.
  16. Oky Ratna asal Ngawi, ditunggu undangan nikahnya, dua atau tiga tahun lagi.
  17. Sayekti Kurnia asal Boyolali, dia akan gigih memperjuangkan cinta pertamanya yaitu salah satu dari list nama di atas, atau mungkin sudah merdeka, mungkiiin.
  18. Harlina Kusumatuti asal Jepara, tidak ada seorang selugu kamu. Kamu adalah top brands. Orang paling teliti dan cermat se alam semesta yang indah ini.
  19. Nurul Mufidah asal Salatiga, menawan dan menarik.
  20. Seseorang dari asal terdekat, dengan jarak terdekat, yang mungkin menjadi pendamping terdekat kelak.yekk.
Tinggalkanlah jejak entah sepatah atau dua patah kata jika menemukan postingan ini. Tapi ingat jangan kepedean atau berlebihan, ini adalah kiasan belaka.


Tuesday, November 11, 2014

Monumen Perjanjian Giyanti di Karanganyar



Giyanti adalah nama perjanjian antara VOC, pihak Mataram (diwakili oleh Sunan Pakubuwana III) & kelompok Pangeran Mangkubumi. Kelompok Pangeran Sambernyawa tak ikut dlm perjanjian ini. Pangeran Mangkubumi demi keuntungan pribadi memutar haluan menyeberang dari kelompok pemberontak bergabung dengan kelompok pemegang legitimasi kekuasaan memerangi pemberontak yaitu Pangeran Sambernyawa. Perjanjian yg ditandatangani pada bulan 13 Februari 1755 ini secara mutlak menandai berakhirnya Kerajaan Mataram yang sepenuhnya independen, berdiri di kaki sendiri. 

Nama Giyanti diambil dari lokasi penandatanganan perjanjian ini, yaitu di Desa Giyanti, yang nama desa sebenarnya adalah Desa Jantiharjo, Kec/Kab. Karanganyar. Perjanjian Giyanti berisi pembagian wilayah Mataram dibagi dua: 
  1. Sebelah timur Kali Opak diserahkan kepada Sri Sunan Pakubuwana III tetap berkedudukan di Surakarta, dan punya wilayah di sekitaran Candi Prambanan bernama Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
  2. Sebelah barat  diserahkan kepada Sri Sultan Hamengkubuwana I (Pangeran Mangkubumi) yang berkedudukan di Yogyakarta bernama Kraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat.

Monumen Perjanjian Giyanti di Janti Harjo Karanganyar

Masa-masa tersulit di Bumi Khatulistiwa (Perjalanan Masa Lalu Bag. IV)

Teringat lagi suatu masa di kala hujan masih mengguyur perkebunan tempat kami menginap. Waktu itu sedang sering-seringnya hujan turun. Keadaan kebun yang sepi, meninggalkan kejemuan bagi kami. Di kala semua karyawan persiapan mudik, kami masih masih berkutat dengan laporan dan presentasi yang menumpuk. Toh jadwal pulang dipastikan 15 hari setelah lebaran. Kepulangan tiga mahasiswa IPB (lihat dalam cerita sebelumnya) membuat mess semakin longgar namun muram durja, sepi sekali. Tugas dan penelitian mereka telah rampung di sepuluh hari menjelang lebaran. Selamat mudik kawan baru.

Dering telpon genggam Abib berbunyi, dia pun jawabnya. Dan masa-masa tersulit pun dimulai.
Penelpon : “maaf mas, seminggu kedepan catering libur dulu ya, mau mudik ke Babulu”. Salah seorang pengantar catering kami nun jauh disana.
·         Abib     : “ Apa mbak?, seminggu?, trus kita gimana mbak?’’
·    Penelpon : “ iya mas, Cuma seminggu, atau mas mau belanja bahan dulu aja mas atau bagaimana ya?’
·         Abib : (sambil berunding dengan kita-kita). “Ya udah mbak ga papa, sama-sama ya mbak”
·         Penelpon : telpon ditutup.

Sejak saat itu hidup kami terbengkalai. Makan seperti tidak makan, minum seperti tidak minum. Semua sama saja, masih kelaparan. Tiga hari sebelum lebaran kebetulan bag.operasional kebun menawarkan tumpangan untuk ke kota terdekat, Waru, untuk belanja kebutuhan pokok. Kesempatan itu kami manfaatkan untuk membeli : Seperangkat Mie Instan, Seperangkat Bumbu, Seperangkat Telur, dan Seperangkat minuman cepat saji (kopi instant, energen, nutrisari, nutri bla bla bla) dan tak lupa jajanan terlezat sepanjang masa, roti Ria Blanket seharga sepuluh ribu per pack. Tidak heran roti ini tidak ada tandingannya karena hanya satu-satunya ‘spesies’ roti yang di jual di Waru, kota kecamatan terbesar di Kaltim.

Mie instan adalah makanan pokok kami, maklum untuk para mahasiswa yang tidak punya tempat untuk memasak dan parahnya tidak bisa masak sama sekali. Jadi jika kami mau makan pergi ke tetangga, saya perkenalkan tetangga terbaik yang menolong perut kami di kala catering yang macet, bernama Mas Sridadi, seorang MT CDO yang secara kebetulan juga tidak mudik. Dan suatu kebetulan yang bertubi-tubi bahwa beliau juga asal Solo, alumnus UNS. Kebetulan yang betul-betul kebetulan.

Suatu hari, kakakku secara di sengaja sedang berlibur di Tanah Grogot setelah ada urusan pekerjaan di Samarinda. Dia berencana mampir menjenguk adik satu-satunya ini, menengok keadaannya. Dia mengerti betul bagaimana mahalnya sembako di daerah perkebunan, teman-teman seprofesinya cukup banyak berasal dari sini. Namun pertemuan keluarga itu tidak jadi, kakak saya harus kembali ke Jawa untuk menyelesaikan urusannya yang tertunda, maklum sebagai buruh berplat merah harus siap sedia ditempatkan dimana saja, demi mengais rejeki. Dan tidak dipungkiri bahwa rejeki itu sebagian digunakan sebesar-besar untuk kemakmuran saya, ha ha.

Lebaran di kebun kami habiskan dengan menonton TV milik mas Sridadi. Dan  sejak saat itu kita lebih sering tidur di rumah mas Sridadi, sekalian nonton TV maksudnya.

Mohon maaf lahir batin. Lebaran di tanah transmigran memang tidak semeriah di Jawa. Namun, kekeluargaannya sangat tinggi mengingat kita sama-sama sedang merantau, bedanya mereka statusnya adalah karyawan, dan kita adalah mahasiswa. Lebaran hari pertama kami habiskan di rumah Kepala Kebun, Pak Supriyanto, yang secara mantap beliau tidak mudik untuk tahun ini. Kami serasa jadi anak beliau karena ibu Supriyanto baik sekali kepada kami.

Lebaran hari kedua kita habiskan di rumah Kepala Polibun (Poliklinik Kebun) yang juga tidak mudik kali ini, namanya Pak Prihatin Pujiono. Di rumah pak polibun ini kami dijamu selayaknya anak-anak, yang kebetulan beliau punya anak-anak kecil. Gulai Entok pun menjadi sajian pembuka di tanah Borneo ini.

Pernah suatu ketika, malam-malam dan gerimis mengundang, kita serentak kelaparan. Masih ingat kala sepulang ibadah di masjid, Wawan melihat serumpun pisang di rumah milik salah seorang Kepala Afdeling bernama pak Imam Hidayat, yang sudah mudik beberapa hari sebelum lebaran. Dengan cekatan dan trampil, kawan saya Wawan mengetik pesan singkat dan send to nomor beliau. Isi pesannya kurang-lebih :”pak, pisang depan rumah sudah menguning, dari pada di makan burung, boleh kami ambil (tebas) pak?”. Cukup lama beliau menjawab malam itu, maklum mungkin beliau sedang bercanda-tawa bersama kerabatnya di kampung halamannya. Pesan masuk dari pak Imam :’’Iya, ambil saja ga papa, sekalian titip rumah ya”. Dan itu adalah jawaban paling indah, kala itu. Dan hari-hari berikutnya pun meja makan kami penuh dengan pisang, satu tandan. Dan masih bertandan-tandan lagi, di pohon tentunya. 
Antara jalan-jalan dan menggembel
Wawan dan Abib, berburu dan meramu



Saturday, November 8, 2014

Semua Berawal dari Goa

Sinopsis :
Dari Goa ke apartemen kelas dua. Mungkin itu ungkapan yang sebetulnya terjadi diantara kami, kumpulan mahasiswa pertanian yang paling tidak terkenal di kampus atau mungkin saya sendiri, yang hidup dalam keterbatasan (litotes....bgt). Sejak kepindahan kerabat-kerabat dari goa (baca : indekos) yang kejam itu, dunia seakan berubah. Flashback: goa dalam cerita ini digambarkan sebagai ruangan indekos yang gelap pekat, lembab tapi panasnya minta ampun, dan basah kuyup dikala hujan, dan apalagi ibu kosnya galaknya alhamdulillah. Semenjak perpindahan ke Asrama Mahasiswa UNS, kami menyebutnya apartemen kelas dua, semuanya menjadi berubah. Banyak cerita yang kami torehkan bersama-sama dalam suasana suka, bahagia dan sejahtera di semester akhir perkuliahan.
 
Bakar-bakaran di Asrama Mahasiswa UNS, 25 Januari 2014


Friday, November 7, 2014

Dumbleg, Jajanan Khas Daerah Jawa Sebelah Timur

Waktu itu saya masih berstatus mahasiswa tingkat akhir, jadi banyak liburnya. Saat itu cukup menyenangkan, karena saya bisa bermain ke'njaba' tanpa kenal waktu, artinya bisa menginap. Suatu ketika, teman saya yang bernama Dawaul Mupid, mau pulang kampung ke L.A. Maksudnya Lamongan, daerah pesisir pantura. Kebetulan sekali dia mau pulang sekalian mau survey kali Bengawan Solo hilir, untuk bahan Skripsinya. Oke kembali ke cerita, waktu itu saya diajak berkeliling kota LA. 

Cuaca siang itu teriknya sekali, padahal baru jam 08.00 WIB. Jalanan juga masih lengang. Untuk melepas dahaga, kita 'mlipir; dibawah pepohonan di jalanan kampung tapi saya lupa namanya. Ada yang unik dari makanan yang saya temui ini, bentuknya seperti terompet buatan anak-anak TK. Oh ternyata bernama "Dumbleg". 

Ada yang menyebutnya Pudak atau Dumbleg atau Dubleg. Ketiganya sebenarnya sama, berbahan tepung beras, gula jawa dan santan. Bercita rasa manis lembut. Pudak dikemas bulat pepat dengan bungkus serat pelepah daun pinang berwarna putih. Sedang Dubleg berbentul lonjong dan dubungkus daun pinang. Mirip dengan lontong.

Dumbleg banyak dijual di pasar tradisonal di daerah Paciran, Lamongan. Ada juga penjual Dumbleg di sekitaran sekolah-sekolah dan pondok pesantren. Kebetulan kita mampir di daerah pondok pesantren yang letaknya di pinggir jalan raya pantura. Karena saya membahas makanan, maka lebih baik dilihat saja penampakannya berikut :

Ini warung penjual Dumbleg (Foto : Koleksi Pribadi)
Dumbleg (Foto : Koleksi Pribadi)

Makan Dumbleg sambil minum es Legen (Foto : Koleksi Pribadi)

Thursday, November 6, 2014

Rasulan Desa Manggung, Sebuah Makna Budaya


Manggung adalah sebuah desa kecil di tengah kota Karanganyar di lereng Gunung Lawu, tempat kelahiranku dan kerabatku. Desaku ini masih melestarikan budaya nenek moyang yang dikenal dengan sebutan "Rasulan". Sebagai kalangan pemuda yang bijak, saya tetap berpegang teguh bahwa Rasulan itu saya pandang sebagai budaya, tak berpikir terlalu jauh dan menanggapinya jika orang lain menyebutnya perbuatan syirik atau seperti halnya menonton acara malam satu suro alias Kebo Bule di kraton Kasunanan Surakarta, mungkin pikirannya belum terbuka. Oke kembali ke cerita tentang desaku ini, masyarakat berusaha melestarikan upacara tradisional tersebut, termasuk saya dan keluarga.

Rasulan dilaksanakan setiap tahun menjelang datangnya bulan suci Ramadan dan biasanya setiap Jumat Pon dan Sabtu Wage dalam kalender Jawa. Runtutan acaranya adalah melaksanakan upacara bersih-bersih makam (dalam bahasa setempat : Nyadran) dengan diiringi doa bersama pada Jumat pagi, setelah itu pada sorenya digelar Wayang Kulit Semalam Suntuk di tempat sesepuh desa. Hal yang tak terlupa dalam acara Rasulan ini adalah sedekah "Panjang ilang" yaitu nasi lengkap lauk-pauk dan jajan pasar  yang ditampung dalam wadah yang terbuat dari janur (daun kelapa yang masih muda). Panjang ilang dibawa sebagai sedekah masing-masing warga untuk ditukar dengan warga lain saat berlangsungnya doa bersama di makam Kanjeng Sentono, makamnya masyarakat Manggung.

Sesepuh desa Manggung Bp. Atmo Jumadi mengungkapkan bahwa Nyadran merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Sang Kuasa, atas limpahan rahmat dan rejeki serta ketentraman yang telah diperoleh masyarakat selama tinggal di desa Manggung. Nyadran juga dimaksudkan sebagai sarana  pembersihan diri yang dilambangkan dengan wadah kranjang (Panjang ilang) yang memiliki makna filosofis menghilangkan kesalahan atau dosa selama waktu setahun. Ritual yang dilakukan masyarakat Manggung syarat akan nilai mitos dan magis, sehingga masyarakat tidak berani berhenti dan melewatkannya, sekali lagi bukan bermaksud syirik tapi hanya "nguri-uri kabudayan Jawi".

Tak pelak acara tahunan Rasulan desa Manggung ini menjadi agenda wajib yang sumber dananya berasal dari : Donatur, Pemerintah, dan Iuran Masyarakat Desa. Perhelatan puncaknya adalah pergelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk yang dimulai pukul 16.00WIB s.d 03.00WIB dengan diawali lakon Sri Mulih pada sore hari, kemudian lanjut dengan lakon berbeda pada malam harinya.
Janur  untuk membuat Panjang ilang
Panjang ilang
Nyadran di Makam Kanjeng Sentono
Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk, tapi siang sudah di mulai





Wednesday, November 5, 2014

Mengisi Tempat Kosong (Perjalanan Masa Lalu Bag III)

Perjuangan di perkebunan kelapa sawit ini ternyata memang baru di mulai. Kita, sekumpulan mahasiswa yang sangat tidak beken di kampus, tidak dikenal banyak orang, kurang sekali pergaulan di kalangan elit kampus, dan merasa terpinggirkan (ini kelewat lebay) berjuang menghadapi kerasnya hidup sebagai mahasiswa perantauan demi secercah ilmu pengetahuan. Dengan keyakinan bahwa pengalaman ini akan dikenang seumur hidup untuk diceritakan kepada anak-cucu kita nanti, iya suatu saat nanti.
Selamat datang di Kebun Sawit
(Kiri-kanan : Happy, Mupid, Dozen, Wawan, Abib, Irvan, Saya, dan Stevy yg memfoto)

Perjuangan di perkebunan kelapa sawit ini ternyata memang baru di mulai. Kita, sekumpulan mahasiswa yang sangat tidak beken di kampus, tidak dikenal banyak orang, kurang sekali pergaulan di kalangan elit kampus, dan merasa terpinggirkan (ini kelewat lebay) berjuang menghadapi kerasnya hidup sebagai mahasiswa perantauan demi secercah ilmu pengetahuan. Dengan keyakinan bahwa pengalaman ini akan dikenang seumur hidup untuk diceritakan kepada anak-cucu kita nanti, iya suatu saat nanti.

Perkebunan kelapa sawit di WKP merupakan salah satu perkebunan terbesar yang letaknya berdampingan dengan perkebunan plasma milik masyarakat setempat. Di hari pertama tentu kita hanya istirahat duduk-duduk sambil ngopi-ngopi di mess milik perusahaan swasta nomor wahid itu. Letaknya di daerah pegunungan membuat suasananya dingin sehingga tidak terbayangkan panas dan teriknya di pulau Borneo yang dilintasi Khatulistiwa ini tersamarkan. Saya ingat waktu itu setibanya di kebun, betapa tercengangnya kita melihat pokok-pokok (pohon) sawit terbentang sangat indah, rapi, dan hijaunya laksana padang rumput yang luas seperti gambar dalam buku Edensor (desa terbaik sedunia versi Andrea Hirata). Kita melihatnya dari atas lho, makanya terlihat seperti rerumputan.

Di kebun sawit ini didukung berbagai fasilitas umum seperti Masjid Agung, Mess Tamu, Mess Pendidikan, Lapangan Bola, Tenis, Voli, Basket, dan Badminton. Dalam satu perusahaan perkebunan terdapat beberapa Afdeling (adalah : kebun dengan luasan tertentu yang dipimpin oleh Asisten, dibawah kendali Administratur di Kantor Besar). Kenyamanan dan keamanan memang menjadi prioritas utama di perusahaan ini. Selama empat hari kita menginap di mess tamu dan hari kelima kita dipindahkan ke perumahan Asisten Kebun (Kepala Afdeling). 

Jangan ditanya fasilitas dalam rumah, saat itu kita memang benar-benar dididik untuk mandiri tanpa kompor, kulkas, mesin cuci apalagi sepeda motor. Ya fasilitasnya cuma sepetak rumah kosong dan itu akan memberikan kehangatan bagi kami dalam tiga bulan ke depan. Demi asas keefektifan maka kita mengambil katering yang ditawarkan oleh Staff Rumah Tangga Perusahaan. Jangan bayangkan makanan katering di kebun selengkap dan beragam selayaknya katering pada umumnya karena secara fakta makanan yang disajikan tidak jauh dari pindang, ikan rawa dan sambel terong. Ya memang, sayur disini laksana emas, mahalnya minta ampun, dan jangan berharap bertemu  Tahu dan Tempe disini, kalo tidak bertepatan dengan acara hajatan karena kedua makanan dari Jawa yang murah itu, disini bagaikan Rendang, makanan terenak sejagat dan mahalnya semahal berlian, haha kalau ini memang lebay.

Di rumah yang kami tempati terdapat tiga kamar tidur dan pembagian kamar pun langsung di mulai. Roro Stevy diistimewakan karena dia adalah satu-satunya perempuan dalam kelompok besar kami maka satu kamar dia tempati, Happy dan Irvan mendapat kamar depan, sedangkan pak Dozen, Mupid dan Abib di kamar belakang. Lalu dimanakah tempat tidurku dan Wawan, ya di ruang tamuuuuuuuu. Namun hal itu tidak menambah rasa kecemburuan sosial diantara kami berdelapan, hahaha.
Rumah Kebun yang kita tempati

Rutinitas Senin pagi adalah saatnya apel di kantor besar. Jam 3 pagi kita sudah bangun untuk siap-siap MCK (mandi-cuci-kakus) dan harus antri karena hanya 1 kamar mandi di dalam rumah, ada 1 juga diluar tapi karena masih termasuk tengah malam, mungkin pada takut, hehehe. Salat Subuh berjamaah pun kita laksanakan dengan hikmat. Pagi itu kita sama-sama berjalan menyusuri gelapnya malam, rapatnya hutan sawit dan terjalnya jalan berbatu menuju kantor besar. Tepat pukul 05.00 WIB apel dimulai. Setelah apel kita mendapat tumpangan dari Bapak-bapak Asisten untuk siap berangkat ke kebun sawit, meneliti, mengamati dan mempraktekan cara budidaya tanaman kelapa sawit. Di Afdeling kita apel lagi bersama para Mandor Kebun dan Pekerja Kebun yang terdiri Atas BHL (Buruh Harian Lepas) dan SKU (Karyawan Tetap) dan doa rutin bersama.

Di kebun adalah saat-saat yang menyenangkan, karena tempatnya teduh, adem, asri, dan beraroma khas hutan belantara. Para pekerja kebanyakan berasal dari asal tanah perantauan terutama Jawa, Madura dan Lombok. Jadi tidak heran jika bahasa disini campur aduk, seperti ngapak-ngapak dari Banyumasan, Krama dari Solo, Bahasa Arek Suroboyo dan Macam-macam lagi.

Satu hal yang saya ingat saat itu waktu selang seharian setelah kita lelah dengan rutinitas di kebun. Kala itu hari minggu kalau tidak salah, kita mendapat kesempatan untuk mengunjungi Hutan Konservasi milik AAL di Babulu. Betapa senangnya kala itu karena selain berkunjung, kita akan bertemu dengan rekan seperjuangan di sana yaitu Budi Handayani dkk, yang telah berpisah beberapa hari lamanya saat di Bandara Sepinggan. 
Hutan Konservasi di Babulu

Tuesday, November 4, 2014

Selamat Datang di Borneo (Perjalanan Masa Lalu Bag. II)

Selamat Datang di Kalimantan Timur, tertulis jelas di Bandara Nasional Sepinggan di Balikpapan Kota Besar kedua setelah Samarinda yang berada dipinggir pantai. Ya, 26 juni 2012 pertama kalinya Saya dan Rekan Seperjuangan menginjakkan di Bumi Orang Utan, Pulau terkaya dan terluas di Indonesia, bentang Khatulistiwa Dunia, Pulau Kalimantan.
Peserta Praktek Magang UNS 2012 (kayaknya saya yg paling lugu)


Sejenak Saya merenung di 1 jam penerbangan dari Surabaya, bahwa kelak impianku ada di Pulau ini, pulau transmigran pilihan rakyat Indonesia. Saudara Kandungku beberapa kali menginjakkan kaki disini, dulu sewaktu masih muda sepertiku. Statusku kala itu sebagai seorang mahasiswa membuat saya berpikir bahwa betapa besar tanggung jawabku nanti selama di bumi Orang utan ini sejenak jauh dari kedua orangtuaku dan kerabatku, dan hanya merajut asa bersama-sama teman seperjuangan di geng Stupid House (tempat tongkrongan mahasiswa UNS yg tidak terkenal) selama 3 bulan ke depan.

Hawanya memang tidak sedingin kampung halamanku di Karanganyar, cenderung panas tapi tidak kepanasan. Di bandara Sepinggan rencannya akan dijemput dari pihak perusahaan dan perpisahan dimulai dari sini : 4 orang ke Grogot, 5 orang ke Waru, dan 5 orang lagi ke Babulu (seperti postingan sebelumnya kita berangkat ber-14 dari Surabaya).  Secara jujur saya dan rekan tidak mengenal satupun daerah tersebut, kita manut saja arahan dari percakapan telepon dari HRD Pusat di Jakarta.

Setelah menunggu 1 jam lebih, jemputan pun tiba. Selamat Berpisah Kawan. Kelompok saya adalah Mupid, pak Dozen, Wawan dan Abieb. Di dalam mobil jemputan kita diberi tahu bahwa perjalanan kita masih panjang, tapi saya tidak menduga bahwa ternyata maksudnya harus menyeberang lautan luas di teluk Balikpapan, oh Gusti. Telepon berdering kembali yang intinya memberi tahu supaya kita langsung merapat di pelabuhan Semayang. Tapi belum sampai malah ditelpon lagi bahwa kapal penjemput sudah berangkat, waadowww. Untuk mempersingkat waktu, Pak Sopir kami menyarankan untuk mencegatnya di pelabuhan Pasar Inpres Balikpapan, dan kita manut saja. 

Setelah sampai di pelabuhan Inpres kita ternyata sudah ditunggu kapal yang baru merapat dan tidak terduga di dalam kapal kapasitas 15 orang itu, kita bertemu dengan Mahasiswa lain, yang ternyata secara takterduga juga, tujuannya sama dengan kita, Magaaaang. Namanya adalah Roro Stevy, Irvan dan Happy Prayogo, mereka adalah mahasiswa IPB. Semua saling berkenalan namun 1 jam pertama itu masih pada jaim, 1 jam berikutnya sudah cair suasananya. 

Perjalanan laut memakan waktu 1 jam dengan naik kapal boat dari perusahaan AAL. Sesampai di Pelabuhan Penajam kami pun sudah di jemput lagi dan tidak lupa makan siang, menunya kala itu adalah Sate Ayam, hmmm. Perjalanan darat menuju Waru (Kota Kecamatan di Penajam) memakan waktu lebih kurang 4 jam. Di perjalanan kita kebanyakan tidur sampai menjelang sore ternyata sudah tiba di Portal Keamanan PT. Waru Kaltim Plantation (disingkat WKP), salah satu anak perusahaan AAL. Setelah pengecekan keamanan ternyata perjalanan masih lanjut menuju mess lebih kurang 1 jam.

Setelah sampai di mess, kita di sambut oleh sepasang Suami-istri yang cukup tua, yang ternyata adalah Staff Rumah Tangga mes WKP, yang bernama Bapak/ibu Masyirom berasal dari Datarang Tinggi Dieng Jawa Tengah. Semakin cair suasananya karena kita bertemu dengan orang Jawa asli di bumi perantauan Kalimantan. Daaan Cerita sesungguhnya di mulai dari siniiiii.........

Awalnya Kita Merumput di Bandara (Perjalanan Masa Lalu Bagian I)

(Februari 2012)

Kala itu masih teringat, di akhir tengah semester ke 5 tahun 2012, saat-saat genting bagi mahasiswa pertengahan untuk melaksanakan praktek magang. Semua antusias mencari tempat magang terbaik, terdekat, terfavorit dan beken, termasuk saya.
Pertengahan bulan Maret 2012, salah satu perkebunan terkemuka di Indonesia tercinta, PT. Astra Agro Lestari, Tbk (disingkat AAL) membuka lowongan pekerjaan bersamaan dengan dibukanya praktek magang mahasiswa, dengan penempatan di Borneo, negerinya Orang Utan dan Bekantan. Teringat waktu itu saya dan teman seperjuangan : Dawaul Mufid (Mupid), Budi Handayani (Budi), Aditya Dharma (Adit), Dwi Hermawan (Wawan), Barata Dwi Aditya (Bray), Arnies Pradana (Pak Dozen), dan Habiburohman (Abib) sepakat dengan lahir dan batin, untuk mengikuti tes masuk yang kebetulan di selenggarakan di kampus hijau tercinta, Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret (disingkat UNS). Yang mengikuti tes dari UNS saat itu 14 orang : 3 orang dari Studi Agribisnis, 5 orang Studi Hama-Penyakit Tumbuhan, 2 Orang Studi Ilmu Tanah, dan 4 orang dari Studi Agronomi. 

Tes pertama di selenggarakan di Aula Perpustakaan Pusat UNS dengan materi : Psikotes dan hari berikutnya lanjut sesi wawancara. Psikotes semua lolos. Namun pada pengumuman wawancara ternyata Gusti Allah sang kuasa punya rencana-Nya. Saya, Habib, Arnies, Wawan, Mupid tidak lolos, teman seperjuangan lain lolos dengan berpredikat Selamat. Oh saat itu rasanya hambar, kecewa berat, tertunduk lesu, lunglai, gontai, letoy. Pupus sudah harapan merantau ke negeri Orang Utan, kala itu.

Namun, disela-sela kegalauan yang melanda kita, pasca pengumuman, cahaya cerah muncul, dibawa oleh seorang guru besar ilmu pertanian, yang bernama ibu Prof. Dr. Ir. Hj. Endang Siti Rahayu. Beliau kala itu sebagai Ketua Magang. Beliau dengan yakin dan bijaksananya menelpon pihak HRD AAL untuk melobi supaya semua mahasiswa magang diberikan ijin untuk magang, wow baik benar ibu ini.

Usaha itu membuahkan hasil. Kita berlima diberi kesempatan untuk terbang ke Borneo dengan syarat, transport dan akomodasi ditanggung sendiri. Tanpa berpikir panjang kita sepakat untuk mengiyakan, kami sudah tidak sabar menjelajah ke pulau terkaya se-Indonesia itu. 

Malam hari di sepuluh terakhir Bulan Juni adalah saatnya keberangkatan kami menuju Borneo. Tanpa diduga teman-teman dahulu lolos dengan tiket perusahaan menawarkan untuk berangkat sama-sama, wah indahnya hati mereka. Kita sepakat untuk menyewa travel dari Solo ke Surabaya, menuju Bandara Internasional Ir. Juanda. Ya kita pertama kalinya mau naik pesawat terbang. Maskapai yang dipilih adalah Lion Air jurusan Surabaya-Balikpapan. Kenapa tidak di Solo atau Jogja saja ya terbangnya? Nah memang niatnya kita menghemat uang saku, namun akhirnya sama saja, tentunya setelah dihitung-hitung, hahaha, ini benar-benar keluguan kita semua hai para kerabat.

Persiapan untuk berangkat memang agak rempong (baca : repot), betapa tidak kita akan praktek selama lebih kurang 3 bulan, menyesuaikan dengan persyaratan perusahaan pengundang. Berbeda dengan teman-teman yang magang di sekitar kampus, mereka mendapat 1 bulan saja. Tentunya ini merupakan konsekuensi kita karena bagaimanapun juga, kala itu libur semester memang hanya 1 bulan, dan bisa dipastikan, kita berlima akan ketinggalan 2 bulan perkuliahan, oh Gusti. 

Uang saku sudah siap, segala macam tas, baju ganti, jas kedinasan (almamater biru), catatan harian dan tiket sudah ditangan. 

(25 Juni 2012)

Perjalanan darat Solo-Surabaya memakan waktu lebih kurang 8 jam,dengan biaya per@ Rp 80.000,- dan setelah sampai dibandara, bayar airport tax Rp 40.000,-, tiket pesawat Rp 650.000,-. Setelah masuk di bagian ruang tunggu di Juanda kita siap berangkat, waktu itu masih pagi jam 07.00 WIB, daaaaaaaaaan, selamat terbaaaang, Borneo, aku dataaang.

Kiri-Kanan : Abib, Wawan, Saya, Mupid, Pak Dozen

Bersambung kapan-kapan.